Berkaca Sebelum Menghina!
Dika adalah seorang anak yang kaya raya dan
sangat manja, namun di kelasnya Dika adalah seorang ketua kelas. Entah mengapa,
dari dulu dia berwatak angkuh dan suka menghina teman-temannya di kelas.
Sifatnya yang seperti itu akhirnya membuat aku teman-teman benci kepadanya.
Bahkan Dika sering sekali menghina teman-temannya yang rendah di depan guru.
Hal ini membuat guru-guru berkali-kali juga menasehati Dika.
Namun, Dika juga mempunyai suatu geng di
kelasnya.
Geng itu bernama “DIKA’S GENG IS THE BEST” dan
berjumlah 5 orang.
Salah satu teman Dika di geng yang mampu
mengerti & sering menasehati Dika, namanya Fikri. Dan 4 teman lainnya
adalah Reza, Ardi, Alfin dan Rosyidi.
Pagi-pagi sekali Dika bersama geng nya datang
ke sekolah terlebih dulu. “Eh, hari ni siapa yang waktunya piket?”
“Gua, Heru, Vina sama Elvi.” Ucap Fikri.
“Terus, anggota piket yang lainnya mana? Ih,
kelas kita tuh very dirty tau!!! Pada gak punya kesadaran apa???”
“Gak tau Dik, belum berangkat paling.” Sambung
Fikri.
“Ya udah, loe piket aja sendiri sana. Don’t
forget, disapu yang bersih ya… And next sampahnya dipilah antara Organik dan
AN-Organik. Kan sekolah Adiwiyata. Oke, You understand???”
Fikri menanggukkan kepala atas omongan Dika.
Walaupun hatinya panas mendengar omongan Dika yang bisanya hanya menyuruh,
namun Fikri tetap melaksanakan tugas piketnya.
Beberapa menit kemudian, Aku dan Faizal pun
datang. “Eh orang-orang miskin, loe bantuin piket tuh Fikri, kasihan dia piket
sendiri. Jangan lupa, nyapu nya yang bersih ya… hahaha.”
Ledekan Dika tersebut membuat aku & Faizal
marah, serta tanpa bicara. Bergegas Aku dan Faizal masuk ke kelas dan langsung
membantu Fikri piket. “Fik, teman-teman yang piket belum pada datang ya?” Tanya
ku.
“Belum Nil. Ehm… loe sama Faizal gak usah bantu
gua nyapu. Tugas loe rapikan aja meja sama kursinya. Tugas Faizal ngelap kaca
aja. Entar, tugas yang lain biar teman-teman yang piket hari ini yang
ngerjakan.”
“Gak usah Fik, gua ikhlas kok bantuin loe. Eh,
tuh Vina sama Elvi datang.”
“Vina, Elvi, kalian piket. Entar dimarahi ketua
kelas loh.!” Sindir Fikri.
Hal itu, membuat Dika marah dan masuk ke kelas
sambil meledek-ledek Fikri. Dika dan Fikri akhirnya saling ejek-ejekan. Fikri
tidak terima dengan sikap Dika yang sering menghina teman-temannya. Akhirnya,
perkelahian pun terjadi, dan Faizal mencoba melerai. “Udah Dik, Fik… kalian
jangan kelahi donk. Gak baik tau. Tugas kita di sekolah belajar, bukan kelahi.”
“Tapi Dika duluan Zal yang ngerendahin kita.
Kita semua sebagai temen-temen Dika bener-bener gak terima atas perlakuan Dika
belakangan ini semenjak jadi ketua kelas.” Fikri mulai emosi.
“Iya Zal. Kita bertiga pun sebagai teman di
geng Dika juga gak terima kalau setiap hari harus direndahin. So, we are very
sad that this continues like Dika.” Sambung Rosyidi dengan gaya bahasa
inggrisnya.
Hal itu membuat Dika tertunduk malu. Dia mulai
sedikit sadar atas perlakuannya selama ini terhadap teman-temannya. Dika juga
mulai mengerti bahwa selama ini teman-temannya sangat sayang kepadanya. Dika
pun ingin meminta maaf kepada semua teman-teman yang sudah pernah diledeknya.
Lalu, Dika melontarkan sebuah kata MAAF dan berjanji tidak akan mengulangnya
lagi. Dika tahu, bahwa selama ini dia sudah banyak bebuat dosa kepada semua
orang.
Dalam hati Dika, ia berdoa: “Ya Allah, hambaMu
ini penuh dengan dosa, hamba sudah banyak berbuat salah di hadapan semua orang.
Maafkan hamba Ya Allah.”
“Teman-teman, aku ingin bertaubat. Aku sudah
banyak bersalah kepada kalian semua. Aku khilaf. Anila, Faizal, dan teman-teman,
salahku begitu banyak ke kalian semua. Lupakan dan maafkan aku ya, aku
benar-benar menyesal. Please forgive me.”
Ku lihat air mata Dika berlinang dan mulai
membasahi pipinya.
“Baguslah kalau kamu sadar Dik, jangan ulangi
lagi ya…” Ucap Elvi.
“Iya Dik, kita semua udah maafin loe kok.
Sudahlah, bagaimanapun juga kamu tetap teman kita, tetap seorang ketua kelas.
Jadilah pemimpin yang berwibawa untuk kelas kita & semua orang.” Sambung
Ardi, salah satu teman di geng Dika.
“Iya teman-teman, gua minta maaf ya sekali
lagi, gua sadar sekarang. Gua harus ngaca dulu sebelum gua menghina orang. Gua
khilaf. Fik, gua minta maaf. Zal, gua juga minta maaf atas perkataan gua tadi
yang mungkin nyakitin hati loe. Kita semua teman.”
Ucapan Dika tadi membuat hati teman-temannya
senang dan lega. Aku, Fikri dan Faizal pun juga sudah memaafkan Dika. Kita
semua pun telah kembali berteman. Mulai saat ini, Dika dan teman-teman mulai
menyadari, bahwa sebelum menghina orang lain, haruslah berkaca dan melihat diri
sendiri dulu. Karena belum tentu yang kita hina itu lebih rendah daripada apa
yang kita fikirkan. Ya, menghina orang lain merupakan akhlak MAZMUMAH dan
perbuatan yang dibenci oleh Allah swt.
Beginilah akhir dari kisah Dika Sang Ketua
kelas yang tadinya sombong dan suka merendahkan, sekarang mulai sadar diri
bahwa menghina itu bukan AKHLAKUL KARIMAH, namun dalam benak & fikirannya
dia berprinsip “BERKACA SEBELUM MENGHINA” adalah Budi pekerti serta perbuatan
terpuji yang baik, disenangi serta menguntungkan buat semua orang.
Surely it’s not going to make derogatory we
noticed other people. So start to appreciate yourself, and do not ever
underestimate others.
TAMAT
Komentar
Posting Komentar